Description
Pada pertengahan abad ke-16, ketika Aceh sedang mengalami masa keemasannya sebagai pusat perdagangan dan keilmuan Islam di Asia Tenggara, muncul seorang tokoh yang akan merevolusi lanskap spiritualitas dan sastra Melayu: Hamzah Fansuri. Buku ini menghadirkan eksplorasi komprehensif atas kehidupan, pemikiran, dan warisan intelektual seorang ulama yang berhasil mengadaptasi metafisika Sufistik Ibn ‘Arabi ke dalam konteks Nusantara, sekaligus memantik perdebatan teologis yang bergema hingga berabad-abad kemudian.
Melalui penelusuran historis yang cermat, karya ini merekonstruksi biografi intelektual Fansuri yang kosmopolitan seorang Sufi yang mengarungi samudera literal maupun metaforis, mengakrabi berbagai tradisi keilmuan dari Baghdad hingga Gujarat, sebelum akhirnya menemukan bahasa spiritual yang orisinal dalam dialektika Melayu. Aceh sebagai melting pot spiritualitas Islam dan simpul jaringan perdagangan internasional menjadi latar yang memungkinkan lahirnya sintesis kreatif antara universalisme Sufistik dan partikularisme budaya lokal.
Fondasi filosofis ajaran Wujudiyah Fansuri dianalisis dalam kerangka genealogi intelektual yang menghubungkan pemikirannya dengan tradisi Wahdat al-Wujud Ibn ‘Arabi, namun dengan penekanan pada inovasi konseptual yang diartikulasikannya dalam doktrin Martabat Tujuh. Dialektika tanzih (transendensi) dan tasybih (imanensi) dalam metafisika Fansuri menunjukkan kecanggihan teologis yang melampaui dikotomi sederhana antara monisme ontologis dan dualisme eksistensial—suatu kerangka konseptual yang memungkinkannya menjembatani ketegangan antara ortodoksi syariat dan pengalaman esoteris.
Revolusi linguistik dan epistemologis yang diinisiasi Fansuri melalui syair-syair Sufistiknya mendapat perhatian khusus dalam buku ini. Domestikasi bahasa Melayu sebagai wahana ekspresi metafisika tidak sekadar merepresentasikan terobosan sastrawi, tetapi juga transformasi fundamental dalam cara pengetahuan spiritual ditransmisikan dan diartikulasikan dalam konteks Nusantara. Analisis stilistika dan semiotika terhadap korpus syair Fansuri mengungkap bagaimana imaji maritim—laut, ombak, perahu—berfungsi sebagai sistem simbolik yang menjembatani pengalaman spiritual yang tak terkatakan dengan batasan-batasan linguistik.
Kontestasi ortodoksi yang terpicu oleh ajaran Wujudiyah Fansuri, terutama kritik sistematik dari Nuruddin al-Raniri, dikaji bukan sebagai konflik personal atau pertarungan kekuasaan semata, melainkan sebagai manifestasi dari problem interpretasi yang lebih fundamental dalam tradisi intelektual Islam: ketegangan antara pendekatan esoteris dan eksoteris dalam interpretasi teks-teks keagamaan. Polemik Fansuri-Raniri diposisikan sebagai titik krusial dalam genealogi diskursus keagamaan di Nusantara yang merefleksikan dinamika internal pemikiran Islam yang lebih luas.
Sebagai penutup, buku ini memetakan jalur transmisi pemikiran Fansuri dalam jaringan ulama Nusantara pasca kematiannya, menunjukkan bagaimana warisan intelektualnya yang kontroversial namun kaya terus mewarnai tradisi syair Melayu dan sastra Sufistik hingga periode modern. Relevansi ajaran Fansuri untuk dialog spiritual kontemporer dan pengembangan pluralitas keagamaan diartikulasikan sebagai argumentasi tentang signifikansi khazanah pemikiran klasik Nusantara bagi penyelesaian problematika keagamaan di era global.
Sebagai volume pertama dari serial “Pemikiran Tasawuf Ulama Nusantara,” karya ini tidak hanya mengisi kekosongan dalam kajian sejarah intelektual Islam Indonesia, tetapi juga menawarkan paradigma baru dalam memahami kompleksitas dan kekayaan tradisi Sufistik di kawasan yang sering dipandang sebagai “periferi” dunia Islam. Dengan menggabungkan kedalaman analisis filosofis, kecermatan penelusuran historis, dan sensitivitas terhadap nuansa kultural, buku ini mengajak pembaca untuk memasuki dunia pemikiran seorang Sufi Melayu yang berhasil mengartikulasikan universalitas ajaran Islam dalam idiom lokal, sekaligus mengangkat tradisi intelektual Nusantara ke dalam percaturan wacana spiritualitas global.
Specification
Additional information
| Title | HAMZAH FANSURI: PIONER TASAWUF WUJUDIYAH DI NUSANTARA |
|---|---|
| Author | Nur Hadi Ihsan |
| Publisher | UNIDA Gontor Press |







Reviews
There are no reviews yet.