PESANTREN AS CIVILIZATION MENYELAMI ARSITEKTUR PEMIKIRAN K.H. IMAM ZARKASYI
Rp50.000Rp75.000 (-33%)
Description
Buku ini mengajukan sebuah tesis yang berani sekaligus provokatif dalam kajian pendidikan Islam kontemporer: bahwa pesantren bukan sekadar lembaga yang mewariskan peradaban Islam, melainkan peradaban itu sendiri dalam wujudnya yang paling padat. Berpijak pada gagasan Ibnu Khaldun tentang ‘umran dan ‘ashabiyah serta konsep challenge and response dari Arnold Toynbee, penulis membangun argumen bahwa setiap peradaban besar bermula dari dalam—dari suatu pandangan hidup (worldview) sebelum ia menjelma menjadi hukum, kurikulum, atau institusi. Dengan kerangka baca ini, buku ini melampaui tradisi kajian pesantren yang telah dirintis oleh Clifford Geertz, Zamakhsyari Dhofier, dan Martin van Bruinessen, dengan menempatkan pemikiran K.H. Imam Zarkasyi—salah satu perumus format Pondok Modern Gontor—sebagai formulasi paling utuh dari arsitektur peradaban pesantren tersebut.
Materi kajian bersumber dari kumpulan ceramah, artikel, dan prasaran K.H. Imam Zarkasyi sepanjang tahun 1946 hingga awal 1980-an, yang tidak dibaca sebagai biografi atau kronologi, melainkan direkonstruksi sebagai satu kesatuan arsitektur berpikir. Buku ini secara metodologis membedakan dua lapis argumen: lapis pertama adalah gagasan orisinal Kiai Imam Zarkasyi yang dijangkarkan langsung pada arsip dan konteks penyampaiannya, sedangkan lapis kedua adalah sintesis dan pengembangan penulis untuk menjawab persoalan kontemporer—kecerdasan buatan, disrupsi digital, krisis kepemimpinan global—yang belum ada pada zaman Kiai Imam Zarkasyi hidup.
Struktur buku disusun dalam lima bagian yang bergerak secara bertahap dari fondasi menuju implikasi:
- Bagian I – The Civilizational Worldview menelusuri pandangan hidup yang mendahului kelembagaan: pesantren sebagai worldview, tauhid dan akhlak sebagai fondasi, serta hakikat ilmu dan pendidikan.
- Bagian II – The DNA of Pesantren Civilization membahas nilai-nilai inti (adab, ilmu, bahasa, kepemimpinan, kemandirian, kaderisasi, dakwah) sebagai “DNA” yang menghidupkan sistem.
- Bagian III – The Architecture of Civilization menunjukkan bagaimana nilai menjelma menjadi sistem kehidupan, institusi, budaya, dan logika peradaban.
- Bagian IV – Pesantren as Civilization memperluas pembahasan ke relasi pesantren dengan umat dan negara, ketahanan peradaban, serta posisinya sebagai model civil society.
- Bagian V – Reimagining Pesantren Civilization memproyeksikan pemikiran Kiai Imam Zarkasyi ke tantangan masa kini dan masa depan: era kecerdasan buatan, tantangan peradaban global, dan visi pesantren abad kedua.
Kerangka teoretis buku ini bersandar pada konsep ta’dib dan worldview Islam dari Syed Muhammad Naquib al-Attas, teori pemeliharaan pola nilai (pattern maintenance) Talcott Parsons, konsep “kanopi suci” Peter Berger, serta gagasan modernitas jamak S.N. Eisenstadt—yang secara bersama-sama digunakan untuk menjelaskan bagaimana pesantren berfungsi sebagai sistem kehidupan (living system) yang mampu mereproduksi dirinya melintasi generasi. Dalam epilog, penulis menegaskan posisi K.H. Imam Zarkasyi sebagai civilizational thinker dalam pengertian Ibnu Khaldun, dan mengajukan pesantren bukan sekadar warisan lokal yang layak dikagumi, melainkan tawaran epistemologi pendidikan karakter yang relevan bagi wacana global.
Secara keseluruhan, buku ini menyumbangkan sebuah kerangka baru dalam kajian pesantren—yang oleh penulis disebut sebagai Pesantren Civilization Studies—dengan mendudukkan pemikiran seorang kiai lokal dalam dialog setara bersama pemikir lintas tradisi seperti Max Weber, Alasdair MacIntyre, Seyyed Hossein Nasr, Fazlur Rahman, hingga Amartya Sen dan Zygmunt Bauman.
Specification
Additional information
| Weight | 0,3 kg |
|---|---|
| Dimensions | 148 × 160 × 230 cm |
| Title | PESANTREN AS CIVILIZATION |
| Author | Nur Hadi Ihsan |
| Publisher | UNIDA GONTOR PRESS |






